Pelajaran bisnis Mirwan Suwarso dalam membangun Como 1907 dari nol adalah salah satu kisah paling relevan untuk siapapun yang sedang membangun sesuatu dari titik paling bawah. Pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, ini tidak memiliki latar belakang sepak bola profesional, tidak memiliki pengalaman mengelola klub olahraga, dan memulai tugasnya di Como saat klub sedang berada di ambang kebangkrutan di kasta keempat Liga Italia. Kisah ini dibagikan secara terbuka dalam podcast Helmy Yahya Bicara, Mei 2026 — dan setiap babnya menyimpan pelajaran bisnis yang melampaui dunia olahraga.
Awal Mula: Penugasan yang Tidak Terduga dari Hartono Bersaudara
Pada 2019, Grup Djarum — yang dikendalikan Hartono Bersaudara, Michael Bambang dan Robert Budi Hartono — memutuskan mengakuisisi Como 1907 dengan harga sekitar Rp10 miliar. Tujuan awalnya cukup spesifik: menyediakan platform di Italia untuk program Garuda Select, yakni pengembangan pemain muda Indonesia di lingkungan sepak bola Eropa.
Mirwan, yang saat itu baru saja dipercaya mengelola Mola TV, ditugaskan memimpin transformasi Como. Tidak ada cetak biru. Tidak ada jaminan berhasil. Hanya kepercayaan dan seperangkat prinsip bisnis yang kemudian ia terapkan secara konsisten selama tujuh tahun.
“Ketika saya pertama datang ke Como, klub ini hampir tidak punya apa-apa. Tapi justru itu yang membuat kami bebas membangun dari awal sesuai visi yang kami inginkan.”
— Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907, Podcast Helmy Yahya Bicara, Mei 2026
Pelajaran 1: Masuk di Saat Tidak Ada yang Mau Masuk
Salah satu pelajaran bisnis Mirwan Suwarso yang paling mendasar: nilai terbesar sering ada di tempat yang paling tidak populer. Saat Djarum masuk ke Como, tidak ada investor lain yang tertarik pada klub di Serie D dengan masalah finansial serius. Justru karena itu, harganya murah dan potensi upside-nya besar.
Ini adalah prinsip yang sama dengan investasi nilai (value investing) di pasar saham: beli saat orang lain takut, jual — atau nikmati hasilnya — saat orang lain serakah. Djarum masuk ke Como di titik ketakutan maksimal. Dan kini, semua orang ingin punya cerita seperti mereka.
Pelajaran 2: Rekrut Orang Terbaik di Bidangnya, Bukan di Bidang Kamu
Mirwan tidak mencoba menjadi pelatih sepak bola. Ia tahu batasnya. Dan justru kesadaran itulah yang membuat keputusan rekrutmennya brilian:
- Untuk urusan teknis lapangan: Cesc Fabregas — mantan kapten Arsenal, Barcelona, dan Chelsea yang punya visi sepak bola modern
- Untuk urusan teknis klub: Dennis Wise — legenda Chelsea yang paham kultur sepak bola Eropa
- Untuk urusan bisnis dan ekosistem: dirinya sendiri dan tim yang ia bangun
“Kunci manajemen yang baik adalah mengetahui apa yang kamu tidak tahu, dan menemukan orang yang tahu hal itu. Saya tidak akan pernah lebih pintar dari Cesc soal sepak bola. Tapi soal bisnis dan branding, itu bidang saya.”
— Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907
Pelajaran 3: Bangun Ekosistem, Bukan Sekadar Produk
Ini mungkin pelajaran bisnis terpenting dari kisah Como: jangan hanya membangun produk utama — bangun ekosistem di sekitarnya. Produk utama Como adalah pertandingan sepak bola. Tapi seperti yang sudah dibahas, pendapatan dari tiket tidak cukup untuk sustain.
Mirwan membangun ekosistem: Lake Como sebagai magnet pariwisata, kemitraan fashion dengan Brioni, konten media di Mola TV, komunitas gaming melalui Como Gaming Club, hingga program akademi untuk regenerasi pemain. Setiap elemen saling memperkuat satu sama lain — itulah yang disebut ekosistem bisnis.
Pelajaran 4: Kesabaran adalah Strategi
Dari Serie D ke Liga Champions butuh tujuh tahun. Di dunia bisnis yang serba cepat dan instan, ketahanan Djarum dalam mendukung Como selama tahun-tahun sulit — tanpa kepanikan, tanpa pergantian manajemen yang membingungkan, tanpa target tidak realistis — adalah faktor yang sering luput dari perhatian.
“Kami tidak pernah memaksakan target yang tidak realistis. Kami tahu ini perjalanan panjang. Dan kami membangun fondasi yang benar di setiap langkahnya.”
— Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907, Podcast Helmy Yahya Bicara, Mei 2026
Banyak proyek bisnis gagal bukan karena ide yang buruk, tapi karena pemiliknya tidak sabar menunggu hasil. Como adalah bukti bahwa kesabaran yang terukur — bukan pasif, tapi aktif membangun sambil menunggu — adalah strategi yang sangat efektif.
Pelajaran 5: Identitas Lebih Kuat dari Uang
Satu hal yang membuat Como berbeda dari banyak klub yang dibeli investor asing lalu gagal: mereka membangun identitas yang kuat dan autentik. Bukan sekadar memasang nama sponsor besar atau mendatangkan pemain bintang yang tidak cocok.
Como membangun identitas sebagai klub yang berakar pada kebanggaan lokal Lake Como, terbuka untuk kolaborasi internasional, dan memiliki visi jangka panjang yang jelas. Fans Como merasa seperti bagian dari proyek bersama — bukan sekadar penonton yang modalnya dibutuhkan.
Warisan: Membuka Jalan bagi Indonesia di Panggung Eropa
Di luar angka dan prestasi, warisan terpenting Mirwan Suwarso mungkin adalah sesuatu yang tidak bisa diukur: ia membuktikan bahwa orang Indonesia bisa tidak hanya bekerja di perusahaan besar Eropa — tapi memimpinnya, membangunnya dari nol, dan membawanya ke panggung tertinggi dunia.
Ini adalah preseden. Dan preseden selalu lebih berharga dari sekadar satu pencapaian tunggal.
Baca juga:
- Mirwan Suwarso, Orang Indonesia di Balik Como 1907 Lolos Liga Champions
- Model Bisnis Como 1907: Bukan Sekadar Klub, tapi Ekosistem ala Disney
- Investasi Sepak Bola Eropa ala Djarum di Como 1907: Peluang atau Gimmick?
- Dari Jakarta ke Italia: Pelajaran Bisnis Mirwan Suwarso Bangun Como dari Nol
- Chairul Tanjung: Usia Muda adalah Momen Terbaik Mulai Bisnis
Sumber:
- Podcast Helmy Yahya Bicara — Mirwan Suwarso, Mei 2026
- Suara.com — Profil Mirwan Suwarso, Pria Indonesia yang Sukses Sulap Como 1907
- ComoIndonesia.id — Mirwan Suwarso, Sosok Penting dalam Perkembangan Como 1907
- StartingEleven.id — Jungkir Balik Djarum Membangun Kembali Como 1907
- Jakarta Review — Ambisi Mirwan Suwarso Persiapkan Como Menuju Eropa
Editor Redaksi InfoArtha | 26 Mei 2026
Redaksi InfoArtha

