Model bisnis Como 1907 Djarum adalah salah satu studi kasus paling menarik dalam dunia olahraga dan investasi global saat ini. Klub asal Lombardia yang dipimpin Presiden Mirwan Suwarso ini tidak sekadar membangun tim sepak bola — mereka membangun sebuah ekosistem bisnis yang menggabungkan olahraga, pariwisata, fashion, media, dan kuliner dalam satu kesatuan yang terintegrasi, sebagaimana diungkap dalam podcast Helmy Yahya Bicara, Mei 2026.
Hasilnya: valuasi klub yang saat diakuisisi tidak sampai 1 juta euro kini melesat menjadi ratusan juta euro — sebuah lonjakan yang membuat banyak pelaku industri olahraga dunia bertanya-tanya: apa rahasia Como?
Bukan Klub Biasa: Model Bisnis Como 1907 yang Dirancang Seperti Disney
Ketika Grup Djarum mengambil alih Como pada 2019, mereka tidak datang dengan mentalitas “beli klub, belanja pemain bintang, harap menang.” Mereka datang dengan pertanyaan yang jauh lebih fundamental: bagaimana kami membangun klub sepak bola yang sustain secara finansial tanpa bergantung sepenuhnya pada hasil pertandingan?
Jawabannya adalah model bisnis Como 1907 yang kini sering disebut sebagai pendekatan “ala Disney” — menggabungkan sepak bola dengan industri hiburan, pariwisata, dan gaya hidup dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
“Kalau kami hanya bergantung pada tiket, bisnis tidak akan sustain. Kapasitas stadion kami hanya 13.000 penonton. Kami harus membangun revenue dari luar lapangan.”
— Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907, Podcast Helmy Yahya Bicara, Mei 2026
Prinsip Utama: Pisahkan Urusan Bisnis dan Sepak Bola
Fondasi dari seluruh model bisnis Como adalah satu prinsip yang terdengar sederhana tapi sulit dijalankan: pisahkan sepenuhnya urusan teknis sepak bola dari urusan bisnis. Djarum Group menunjuk orang-orang terbaik di masing-masing bidang:
- Teknis lapangan: Cesc Fabregas (pelatih kepala), Dennis Wise (CEO teknis) — mantan pemain kelas dunia
- Bisnis dan strategi: Mirwan Suwarso (Presiden) — eksekutif kreatif dan pebisnis media
Mirwan tidak ikut campur soal siapa yang harus dimainkan atau strategi pressing. Fabregas tidak ikut campur soal kontrak sponsor atau strategi branding. Keduanya bekerja pada bidangnya masing-masing — dan itulah yang membuat Como berjalan efisien.
Lake Como sebagai Aset: 3,2 Juta Turis Premium Setiap Tahun
Salah satu keunggulan kompetitif Como yang tidak dimiliki klub manapun di dunia adalah lokasi geografisnya. Kota Como terletak di tepi danau Alpine yang sudah menjadi destinasi wisata premium global — 3,2 juta turis datang setiap tahun, didominasi kalangan menengah atas dari seluruh dunia.
Komposisi ini sempurna untuk strategi bisnis premium. Bukan turis backpacker yang pelit belanja — tapi traveler kelas atas yang bersedia membeli merchandise eksklusif, mengikuti stadium tour, makan di restoran berlogo Como, hingga menginap di hotel bertema klub.
“Lake Como adalah aset bisnis kami yang paling berharga. Setiap turis yang datang ke danau ini adalah calon pelanggan Como — bahkan yang belum pernah menonton sepak bola sekalipun.”
— Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907
Empat Sumber Revenue Selain Tiket: Fashion, Pariwisata, Media, Kuliner
Dalam model bisnis Como 1907 versi Djarum, tiket pertandingan hanyalah satu dari banyak sumber pendapatan. Klub secara aktif membangun revenue streams yang tidak bergantung pada hasil di lapangan:
- Fashion & Merchandise: Juli 2025, Como meluncurkan kemitraan formal wear dengan Brioni — merek mewah Italia untuk musim 2025/26. Merchandise eksklusif dijual ke turis premium Lake Como
- Pariwisata: Paket tur stadion, matchday experience, dan kolaborasi dengan industri perhotelan Lake Como
- Media & Entertainment: Konten digital, dokumenter, dan ekosistem Mola TV (platform streaming Djarum) yang memperluas jangkauan global brand Como
- Gaming: Januari 2026, Como membentuk Como Gaming Club dan bermitra dengan FC Zeta Milano dalam Kings League Italy — memperluas fanbase ke komunitas gamer
Valuasi Melonjak: Dari Kurang 1 Juta Euro ke Ratusan Juta Euro
Hasil dari model bisnis Como 1907 yang dijalankan konsisten ini tercermin dalam angka yang tidak bisa diperdebatkan. Ketika Djarum mengakuisisi Como pada 2019, valuasi klub tidak sampai 1 juta euro. Harga akuisisinya pun hanya sekitar Rp10 miliar — murah untuk ukuran sepak bola Eropa.
Kini, setelah lolos ke Liga Champions:
- Total investasi Djarum ke Como: sekitar €390 juta (±Rp7,57 triliun)
- Nilai skuad mencatat kenaikan paling signifikan di antara 7 klub teratas Serie A — naik Rp1,17 triliun dalam satu musim (Football Benchmark)
- Hak siar Liga Champions: estimasi pemasukan €30–50 juta per musim hanya dari distribusi hak siar UEFA
Renovasi Stadion: Syarat Wajib untuk Berlaga di Eropa
Satu tantangan besar yang langsung dihadapi Como pasca-lolos Liga Champions: Stadion Sinigaglia yang menjadi markas mereka belum memenuhi standar UEFA untuk menggelar laga level Eropa. Renovasi besar-besaran sudah direncanakan dan dijadwalkan rampung sebelum akhir musim panas 2026.
“Kami menargetkan seluruh renovasi rampung pada akhir musim panas ini. Pekerjaan fisik akan langsung dimulai tepat setelah pertandingan terakhir musim ini.”
— Mirwan Suwarso, kepada Gazzetta dello Sport, dikutip Football Italia
Investasi infrastruktur ini bukan sekadar kepatuhan regulasi UEFA — tapi juga bagian dari visi jangka panjang menjadikan stadion Como sebagai destinasi wisata tersendiri yang terintegrasi dengan ekosistem bisnis Lake Como yang lebih luas.
Baca juga:
- Mirwan Suwarso, Orang Indonesia di Balik Como 1907 Lolos Liga Champions
- Model Bisnis Como 1907: Bukan Sekadar Klub, tapi Ekosistem ala Disney
- Investasi Sepak Bola Eropa ala Djarum di Como 1907: Peluang atau Gimmick?
- Dari Jakarta ke Italia: Pelajaran Bisnis Mirwan Suwarso Bangun Como dari Nol
- 5 Modal Selain Uang untuk Mulai Bisnis versi CT dan Dirut BRI
- Prabowo Optimistis Rp49 Triliun Masuk Kas Negara dari Satgas dan PPATK
Sumber:
- Podcast Helmy Yahya Bicara — Mirwan Suwarso, Mei 2026
- Kontan.co.id — Strategi Grup Djarum Membesarkan Como 1907
- Bola.net — Como 1907: Dari Serie D ke Serie A dalam 5 Tahun
- Gilabola.com — Transformasi Como 1907, Nilai Klub Melonjak
- Jakarta Review — Ambisi Mirwan Suwarso Persiapkan Como Menuju Eropa
Editor Redaksi InfoArtha | 26 Mei 2026
Redaksi InfoArtha

