sandiaga unosandiaga uno sumber sandiuno.com


JAKARTA, InfoArtha — Sandiaga Uno merekomendasikan tiga saham perbankan yang diyakininya akan tetap bertahan dan relevan menuju Indonesia 2045, dalam sebuah Reels yang diunggah di akun Instagram pribadinya @sandiuno. Di tengah gejolak pasar saham yang membuat banyak investor ritel kebingungan, politisi sekaligus pengusaha Sandiaga Salahuddin Uno tampil dengan satu tesis sederhana namun tegas: bukan startup, bukan teknologi — yang akan tetap ada adalah perbankan.

Judul reels-nya langsung menohok: “Bukan Start Up! Ada 1 Industri Yang Akan Tetap Bertahan di Indonesia 2045.”

Bukan Startup, Ini Tulang Punggung Indonesia Maju 2045

Sandiaga Uno merekomendasikan dua saham bank Himbara, dengan membuka argumen dari visi makro terlebih dahulu. Ia optimis Indonesia akan mencapai status negara maju pada 2045, ditandai dengan GDP per kapita yang signifikan. Dan menurutnya, sektor yang paling siap menanggung beban pertumbuhan itu bukan euforia teknologi atau gelombang startup.

“Saya optimis Indonesia bisa jadi negara maju di 2045, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi salah satunya sektor perbankan.”

— Sandiaga Salahuddin Uno, Instagram Reels @sandiuno

Alasannya terukur. Lebih dari 80 persen kekuatan sektor perbankan Indonesia terkonsentrasi di bank-bank besar—perusahaan dengan rekam jejak panjang, dikelola penuh, dan menjadi tulang punggung pembiayaan nasional selama puluhan tahun. Struktur seperti ini, menurut Sandiaga, memberikan ketahanan yang tidak bisa ditandingi oleh perusahaan rintisan yang usianya baru hitungan tahun.

Baca juga: IHSG Anjlok: Dasco dan OJK Sidak BEI

Sandiaga Uno Rekomendasikan BBRI dan BMRI: Himbara Jadi Pilihan Utama

Sandiaga tidak berhenti di tataran teori. Ia menyebut nama saham secara spesifik. Dari kelompok bank BUMN atau Himbara, dua emiten yang ia soroti adalah Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI). Sementara untuk segmen bank swasta, pilihannya jatuh pada BCA (BBCA).

Ketiga saham ini bukan pilihan sembarangan. Ketiganya masuk jajaran blue chip perbankan Indonesia dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, likuiditas perdagangan harian yang tinggi, dan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten dari tahun ke tahun—faktor-faktor yang relevan untuk investor dengan horizon investasi jangka panjang.

Investasi Bukan Soal Timing, Tapi Pahami Core Value Bisnisnya

Setelah menyebut nama saham, Sandiaga masuk ke bagian yang paling substantif dari kontennya: cara berpikir yang benar dalam berinvestasi. Ia menegaskan bahwa terlalu banyak investor—terutama yang masih pemula—terjebak dalam obsesi mencari momen beli terbaik. Padahal, menurut Sandiaga, itu bukan kuncinya.

“Investasi itu bukan soal timing, tapi bagaimana kita memahaminya. Lihat bisnisnya, cek kinerjanya, pahami dari mana perusahaan tersebut menghasilkan keuntungan, dan bagaimana konsistensinya ke depan.”

— Sandiaga Salahuddin Uno, Instagram Reels @sandiuno

Filosofi ini sejalan dengan pendekatan investasi nilai (value investing) yang dipopulerkan Warren Buffett: beli bisnis yang bagus, bukan sekadar saham yang harganya sedang murah. Untuk sektor perbankan besar Indonesia, bisnis itu sudah terbukti selama puluhan tahun—melewati krisis 1998, pandemi 2020, hingga gejolak global 2025–2026.

Peringatan Keras: Jangan Beli Saham Karena Harganya di Titik Terendah

Salah satu pernyataan Sandiaga yang paling keras dan perlu dicatat oleh investor ritel adalah peringatannya soal mental catching a falling knife—membeli saham semata karena harganya sudah jatuh dalam.

“Jangan pernah kita coba beli pada saat terendah.”

— Sandiaga Salahuddin Uno, Instagram Reels @sandiuno

Peringatan ini relevan di tengah kondisi pasar saat ini. Banyak investor ritel yang tergoda membeli saham yang sudah turun signifikan dengan asumsi “sudah murah”—tanpa memahami apakah penurunan itu karena faktor sementara atau ada masalah fundamental di bisnis yang bersangkutan. Saham yang turun belum tentu murah; bisa saja ia turun karena memang nilainya sudah berubah.

Baca juga: Purbaya di Jogja Financial Festival 2026: Danantara, DHE, dan IHSG

Satu Pertanyaan Wajib Sebelum Beli: Berapa Dividend Yield-nya?

Sandiaga menutup kontennya dengan satu pertanyaan yang ia dorong agar selalu dijawab investor sebelum memutuskan masuk ke saham perbankan: berapa yield-nya dari segi dividen?

Ini bukan pertanyaan teknis yang rumit, tapi sering diabaikan. Dividend yield mencerminkan dua hal sekaligus: seberapa besar perusahaan menghargai pemegang sahamnya, dan seberapa konsisten kinerja keuangannya dari waktu ke waktu. Untuk emiten seperti BBRI dan BMRI yang rutin membagi dividen besar—bahkan sering dalam bentuk dividen interim dan dividen final—pertanyaan ini menjadi filter yang sangat efektif.

“Karena yang dicari bukan cuma untung cepat, tapi pertumbuhan yang berkelanjutan.”

— Sandiaga Salahuddin Uno, Instagram Reels @sandiuno

Konsistensi inilah, tegas Sandiaga, yang harus dilihat dalam horizon waktu yang panjang—tiga, lima, hingga sepuluh tahun ke depan. Bukan dalam hitungan minggu atau bulan.

Sebagai catatan penting: pernyataan Sandiaga Uno dalam konten Instagram tersebut merupakan opini pribadi berdasarkan perspektif investasinya sendiri, bukan rekomendasi investasi yang bersifat resmi. Setiap keputusan investasi saham sebaiknya didasarkan pada riset mandiri dan mempertimbangkan profil risiko masing-masing investor.


Sumber:

By Redaksi

Redaksi InfoArtha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *