Investasi sepak bola Eropa kini menjadi salah satu tren paling menarik di kalangan konglomerat Asia — dan kisah sukses Como 1907 di bawah kepemilikan Grup Djarum menjadikannya rujukan utama. Dalam podcast Helmy Yahya Bicara bersama Presiden Como 1907 Mirwan Suwarso (Mei 2026), terungkap detail strategi dan kalkulasi bisnis di balik akuisisi yang awalnya tampak gila: membeli klub bangkrut di kasta keempat Italia, lalu membawanya ke Liga Champions tujuh tahun kemudian.
Tapi apakah investasi seperti ini benar-benar menguntungkan? Atau ini sekadar “gimmick” branding korporat yang biayanya jauh lebih besar dari manfaatnya?
Tren Global: Mengapa Konglomerat Asia Berbondong Beli Klub Eropa?
Tren investasi sepak bola Eropa oleh pemilik Asia bukan fenomena baru, tapi semakin masif dalam satu dekade terakhir. Beberapa nama besar yang sudah lebih dulu masuk:
- Manchester City — dimiliki Abu Dhabi United Group (UAE) sejak 2008
- Paris Saint-Germain — Qatar Sports Investments sejak 2011
- Inter Milan — Oaktree Capital Management (AS) sejak 2024
- Como 1907 — Grup Djarum Indonesia sejak 2019
Motivasinya beragam: ada yang murni profit, ada yang untuk branding global, ada yang untuk soft power negara, dan ada yang merupakan diversifikasi portofolio investasi ke aset alternatif yang tidak berkorelasi dengan pasar modal konvensional.
Kalkulasi Djarum: Beli Rp10 Miliar, Kini Investasi Rp7,57 Triliun
Angka-angka di balik investasi sepak bola Djarum di Como sangat menarik untuk dicermati:
| Item | Nilai |
|---|---|
| Harga akuisisi awal (2019) | ~Rp10 miliar |
| Valuasi klub saat diakuisisi | <1 juta euro |
| Total investasi kumulatif (2019–2026) | ~€390 juta (Rp7,57 T) |
| Kenaikan nilai skuad musim 2025/26 | +Rp1,17 triliun |
| Estimasi hak siar UCL per musim | €30–50 juta |
| Klasifikasi investasi | Aset alternatif / sport investment |
Sumber: Bloomberg Technoz, Gilabola.com, Football Benchmark | Data s.d. Mei 2026.
“Investasi di Como tidak lebih besar dari Liga Indonesia. Gaji pemain juga tidak lebih mahal. Kami tidak akan belanja jor-joran untuk Como.”
— Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907, Podcast Helmy Yahya Bicara, Mei 2026
Dari Mana Return-nya? Lima Sumber Nilai Investasi Klub Sepak Bola
Tidak seperti saham atau obligasi yang imbal hasilnya relatif mudah dihitung, investasi sepak bola Eropa memiliki multiple return yang sebagian besar bersifat non-finansial:
- Apresiasi nilai aset klub — valuasi klub bisa naik puluhan hingga ratusan kali lipat seiring prestasi dan paparan media internasional
- Hak siar UEFA — lolos Liga Champions membuka akses distribusi €30–50 juta per musim
- Branding global — nama Djarum dan Indonesia disebut di seluruh media sepak bola Eropa tanpa biaya iklan konvensional
- Ekosistem bisnis — sponsorship, merchandise, pariwisata, dan media di sekitar klub
- Transfer pemain — klub yang berhasil mengembangkan pemain muda bisa meraih keuntungan besar dari penjualan
Risiko Nyata yang Sering Diabaikan Investor
Di sisi lain, investasi sepak bola bukan tanpa risiko. Beberapa hal yang sering diabaikan calon investor:
- Degradasi — turun kasta berarti kehilangan hak siar, sponsor, dan pemain kunci sekaligus
- Biaya tetap yang besar — gaji pemain, staf, dan operasional harus dibayar terlepas dari hasil pertandingan
- Kompleksitas regulasi — aturan Financial Fair Play UEFA membatasi pengeluaran
- Ketergantungan pada individu — kehilangan pelatih atau pemain kunci bisa membalikkan semua progres
- Horizon investasi panjang — butuh 5–10 tahun sebelum return mulai terasa signifikan
Como vs Klub Gagal: Apa yang Membedakan?
Sejarah penuh contoh investasi sepak bola yang berakhir buruk — Parma, Portsmouth, Leeds United, hingga klub-klub China yang diborong investor asing lalu ditinggalkan. Yang membedakan Como:
- Pemisahan tegas antara manajemen bisnis dan teknis
- Strategi revenue yang tidak bergantung pada tiket semata
- Memanfaatkan keunggulan lokasi (Lake Como) sebagai aset bisnis premium
- Kesabaran jangka panjang — Djarum tidak panik saat Como masih di Serie D
Pelajaran untuk Investor Indonesia: Ini Bukan untuk Semua Orang
Kisah sukses Djarum di Como tentu menggoda. Tapi penting untuk diingat bahwa Hartono Bersaudara masuk dengan modal, jaringan, dan kapasitas manajemen yang tidak dimiliki kebanyakan investor. Investasi sepak bola Eropa adalah aset alternatif dengan risiko tinggi, horizon panjang, dan kebutuhan modal yang masif.
Bagi investor individu, pelajaran yang bisa dipetik bukan “ikut beli klub” — tapi bagaimana mengidentifikasi aset undervalued, bersabar dengan horizon panjang, dan membangun ekosistem bisnis di sekitar aset utama. Prinsip yang berlaku di sepak bola, juga berlaku di bisnis manapun.
Baca juga:
- Mirwan Suwarso, Orang Indonesia di Balik Como 1907 Lolos Liga Champions
- Model Bisnis Como 1907: Bukan Sekadar Klub, tapi Ekosistem ala Disney
- Investasi Sepak Bola Eropa ala Djarum di Como 1907: Peluang atau Gimmick?
- Dari Jakarta ke Italia: Pelajaran Bisnis Mirwan Suwarso Bangun Como dari Nol
- Purbaya di Jogja Financial Festival: Danantara, DHE, dan IHSG Rebound
Sumber:
- Podcast Helmy Yahya Bicara — Mirwan Suwarso, Mei 2026
- Bloomberg Technoz — Bisnis Hartono: Djarum, BCA sampai Como
- Gilabola.com — Transformasi Como 1907, Nilai Klub Melonjak
- Kontan.co.id — Profil Hartono Bersaudara, Pemilik Como 1907
Editor Redaksi InfoArtha | 26 Mei 2026
Redaksi InfoArtha

