JAKARTA, InfoArtha — IHSG anjlok tajam hingga 3,08 persen ke level 6.396,26 pada Selasa, 19 Mei 2026, memicu respons cepat dari pemerintah dan otoritas keuangan. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama sejumlah pejabat senior langsung sidak ke Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memantau kondisi pasar modal secara langsung dan memastikan stabilitas sistem keuangan nasional.
Kunjungan mendadak ini menjadi sinyal serius pemerintah merespons kekhawatiran puluhan juta investor lokal di tengah tekanan pasar yang datang bersamaan dari faktor global dan domestik.
IHSG Anjlok 3,08 Persen ke Level 6.396
Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG dibuka di level 6.599,21 pada pagi hari. Indeks sempat berbalik ke zona hijau pada awal sesi, namun tekanan jual yang kuat akhirnya membawa IHSG tergelincir ke level 6.396,26 — turun 202 poin atau 3,08 persen dalam sesi I perdagangan.
Pelemahan ini merupakan lanjutan dari tekanan yang terjadi sejak pertengahan Mei 2026. Pasar terdampak oleh dua faktor utama: keputusan rebalancing indeks MSCI pada 12 Mei lalu, serta dinamika geopolitik di Timur Tengah yang mendorong sentimen risk-off di bursa Asia.
Dasco dan Rombongan Sidak BEI Pagi Ini
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad tiba di Gedung BEI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, sekitar pukul 10.27–10.38 WIB. Kedatangannya langsung disambut oleh jajaran direksi bursa dan pejabat terkait. Rombongan kemudian naik ke lantai 6 untuk menggelar rapat tertutup.
Hadir mendampingi Dasco dalam kunjungan tersebut:
- Friderica Widyasari Dewi — Ketua Dewan Komisioner OJK
- Rosan Roeslani — CEO BPI Danantara / Menteri Investasi dan Hilirisasi
- Dony Oskaria — COO BPI Danantara / Kepala BP BUMN
- I Gede Nyoman Yetna — Direktur Penilaian Perusahaan BEI
“Kami tadi sudah banyak berdiskusi, bagaimana kita menguatkan investor global untuk masuk di bursa. Tetapi kami juga banyak berdiskusi bagaimana kemudian investor ritel yang ada terus tumbuh dan berkembang.”
— Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI
Dasco menegaskan keyakinannya bahwa dengan fundamental yang ada, bursa Indonesia akan semakin menguat ke depan. Ia menargetkan hasil nyata bisa terlihat setelah tanggal 29 Mei 2026.
OJK: Koreksi Masih Wajar, Sejalan Bursa Regional
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan bahwa pelemahan IHSG yang terjadi masih dalam kategori moderat dan sejalan dengan tren koreksi di bursa kawasan Asia.
“Kita melihat pelemahan IHSG saat ini sebenarnya masih sejalan dengan tren pelemahan bursa secara regional. Pergerakan saham lebih didorong oleh aspek fundamental dibandingkan sentimen semata. Jadi ini sangat baik, perbaikan-perbaikan yang dilakukan.”
— Friderica Widyasari Dewi (Kiki), Ketua Dewan Komisioner OJK
Friderica merinci, penurunan IHSG pada hari pertama pengumuman MSCI hanya 1,98 persen, kemudian 1,85 persen pada 18 Mei 2026 pascalibur panjang. Kondisi tersebut dinilai sebagai proses penyesuaian pasar yang sehat — bergerak lebih fundamental selaras dengan indeks utama seperti MSCI, LQ45, IDX30, dan IDX80.
Di sisi lain, OJK mencatat tren positif pada instrumen reksa dana. Nilai asset under management (AUM) reksa dana justru tumbuh Rp 49,71 triliun atau 6,39 persen secara tahunan, sehingga total dana kelolaan mencapai Rp 718,44 triliun.
Rosan Roeslani Optimis Pasar Modal Jangka Panjang
CEO BPI Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani memberikan pandangan optimistis terhadap prospek bursa dalam jangka panjang. Menurutnya, saham-saham BUMN saat ini masih menawarkan daya tarik investasi yang kuat.
“Saya sangat meyakini bahwa ke depannya dalam jangka panjang, bursa kita ini akan terus bertumbuh baik dari segi market capitalization-nya, dari segi emitennya, maupun dari segi investornya.”
— Rosan Roeslani, CEO BPI Danantara / Menteri Investasi
Rosan menyebut sejumlah saham BUMN saat ini menawarkan potensi imbal hasil (yield) di atas 10–11 persen dengan valuasi yang masih atraktif. Ia mengapresiasi langkah reformasi yang dilakukan BEI dan OJK untuk meningkatkan kepercayaan investor.
BEI: Laba Emiten Tumbuh 21,5 Persen, Jangan Panic Selling
Penjabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa koreksi yang terjadi merupakan akumulasi dari pergerakan bursa global Asia selama periode libur panjang Indonesia — sehingga wajar jika terasa berat dalam satu sesi perdagangan.
Jeffrey mengimbau seluruh pelaku pasar untuk tidak melakukan panic selling dan tetap jernih dalam mengambil keputusan investasi. Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna memaparkan data yang menggembirakan:
- Dari 957 perusahaan tercatat di BEI, 85 persen telah melaporkan kinerja keuangan
- Pertumbuhan laba bersih rata-rata emiten mencapai 21,5 persen
- Jumlah investor pasar modal Indonesia terus meningkat signifikan
Data tersebut menegaskan bahwa koreksi harga saat ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental emiten, melainkan semata-mata respons terhadap sentimen pasar global yang bersifat sementara.
Baca juga:
- Rupiah Melemah? Purbaya: Enggak Usah Takut, Ekonomi Kita Kuat!
- Prabowo Optimistis Rp49 Triliun Masuk Kas Negara dari Satgas dan PPATK
- Menkeu Purbaya: Tidak Akan Ada Tax Amnesty Baru
Sumber: Kompas TV, 19 Mei 2026 | Editor Redaksi InfoArtha
Praktisi perpajakan dengan pengalaman belasan tahun. Pendiri InfoArtha — portal berita pajak dan kabar daerah Indonesia.

