JAKARTA, InfoArtha — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan rupiah tidak membahayakan anggaran negara maupun aktivitas ekonomi domestik, dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada media internasional, termasuk Al Jazeera dan Bloomberg. Purbaya menjawab langsung pertanyaan wartawan Al Jazeera yang menanyakan dampak depresiasi rupiah terhadap perekonomian Indonesia, khususnya bagi rumah tangga berpendapatan rendah.
Pernyataan ini direkam dan disiarkan oleh Kompas TV, menampilkan Purbaya berbicara dalam bahasa Inggris kepada jurnalis asing dalam sebuah sesi tanya jawab resmi.
Purbaya: Rupiah Melemah, Anggaran Negara Masih Aman
Merespons kekhawatiran Al Jazeera soal dampak pelemahan rupiah terhadap ekonomi Indonesia 2026, Purbaya langsung menjawab dengan data. Pemerintah, katanya, sudah mengantisipasi skenario pelemahan rupiah sedari awal penyusunan anggaran.
“Kami telah memperhitungkan depresiasi Rupiah yang mendekati level saat ini, jadi anggaran kami masih oke meskipun Rupiah melemah ke level sekarang.”
Pernyataan ini menjadi sinyal penting bahwa pemerintah tidak panik menghadapi tekanan nilai tukar. Asumsi nilai tukar dalam RAPBN sudah didesain dengan margin keamanan yang memadai untuk mengakomodasi fluktuasi di kisaran level rupiah saat ini.
Baca juga: Rupiah Melemah, Purbaya: Fundamental Ekonomi Kita Bagus
Ekonomi Kuat, Rupiah Akan Menguat Secara Otomatis
Alih-alih berfokus pada intervensi nilai tukar secara langsung, Purbaya mengungkapkan strategi jangka menengah dan panjang yang lebih fundamental: memastikan pertumbuhan ekonomi domestik tetap solid. Bagi Purbaya, penguatan rupiah adalah konsekuensi alamiah dari ekonomi yang sehat—bukan tujuan yang dikejar secara artifisial.
“Saat ini, fokus saya adalah memastikan bahwa ekonomi domestik terus tumbuh kuat dalam jangka menengah dan jangka panjang. Hal itu akan memperkuat mata uang secara otomatis. Karena saya percaya investor, terutama investor asing, suka berinvestasi di negara yang menawarkan pertumbuhan paling menjanjikan di kawasannya.”
Logika yang disampaikan Purbaya sederhana namun kuat: FDI (Foreign Direct Investment) mengalir ke negara dengan prospek pertumbuhan terbaik. Jika Indonesia mampu mempertahankan momentum pertumbuhannya, kepercayaan investor asing akan kembali—dan rupiah akan mengikuti.
Indonesia Nomor Dua di G20, Kalah Hanya dari India
Purbaya memberikan konteks komparatif yang tegas untuk menepis narasi bahwa Indonesia sedang tertinggal. Ia menyebut bahwa di antara negara-negara anggota G20, Indonesia saat ini berada di posisi kedua dalam hal kecepatan pertumbuhan ekonomi—hanya di bawah India.
“Kita tumbuh jauh lebih cepat dibanding banyak negara lain, bahkan di G20 kita berada di nomor dua setelah India. Jadi, prospek ekonomi dan Rupiah tidak menciptakan dampak buruk pada aktivitas ekonomi.”
Pernyataan ini menempatkan pelemahan rupiah dalam perspektif yang lebih luas: bukan cermin dari kelemahan struktural ekonomi Indonesia, melainkan dampak dari tekanan eksternal yang bersifat sementara dan dialami banyak negara berkembang lainnya.
Baca juga: APBN Mei 2026: Strategi Purbaya Jinakkan Dolar
Geopolitik Membaik: AS, Iran, dan Israel Dekati Kesepakatan Damai
Purbaya juga menyinggung faktor geopolitik sebagai salah satu penyebab tekanan sementara terhadap rupiah. Namun ia optimistis bahwa tekanan tersebut akan mereda dalam waktu dekat, dengan mengacu pada perkembangan positif di tingkat global yang dilaporkan Bloomberg dan Al Jazeera sendiri.
“Jika Anda melihat Bloomberg dan Al Jazeera, berita menyebutkan bahwa AS, Iran, dan Israel sudah sangat dekat untuk mencapai kesepakatan damai. Saya percaya dalam dua hingga tiga bulan ke depan, situasinya akan jauh lebih baik daripada sekarang. Artinya, gangguan yang sampai batas tertentu melemahkan Rupiah ini juga akan hilang.”
Dengan kata lain, Purbaya memandang pelemahan rupiah saat ini sebagian besar bersifat eksternal dan bersifat siklikal—bukan struktural. Ketika situasi geopolitik membaik, arus modal ke aset-aset negara berkembang seperti Indonesia pun diperkirakan akan kembali mengalir.
Strategi Jangka Pendek: Intervensi Pasar Obligasi Cegah Capital Loss
Sambil menunggu pemulihan kondisi global, Purbaya mengungkapkan langkah konkret jangka pendek yang sudah dijalankan pemerintah: intervensi aktif di pasar obligasi domestik. Tujuannya adalah memastikan imbal hasil (yield) obligasi tidak melonjak tajam, yang bisa memukul nilai portofolio investor saat ini.
“Dalam jangka pendek, kami mencoba mendukung sektor perbankan dan Bank Sentral dengan melakukan intervensi di pasar obligasi untuk memastikan bahwa yield tidak meningkat secara signifikan. Kita harus memastikan investor yang memegang obligasi domestik saat ini tidak mengalami apa yang kita sebut sebagai kerugian modal. Hal itu juga akan mencegah mereka membawa uang mereka ke luar negeri.”
Logika di balik intervensi ini berlapis: jika investor domestik maupun asing menderita capital loss akibat anjloknya harga obligasi, mereka akan terdorong memindahkan dananya ke luar negeri—yang justru akan menekan rupiah lebih dalam. Dengan menstabilkan pasar obligasi, pemerintah sekaligus membangun tembok pertama melawan arus modal keluar.
Koordinasi Silang Kemenkeu dan Bank Indonesia: Kunci Stabilitas Keuangan
Purbaya menutup pernyataannya dengan menegaskan pentingnya koordinasi kelembagaan antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral. Koordinasi ini, menurutnya, adalah fondasi dari respons kebijakan yang efektif terhadap tekanan nilai tukar.
Dengan koordinasi yang solid antara fiskal dan moneter, Purbaya yakin kepercayaan terhadap rupiah akan pulih secara bertahap—sejalan dengan membaiknya fundamental ekonomi domestik dan kondisi global.
Sumber:
Redaksi InfoArtha

